Painting 3D Mural Project Photography Sculpture Event

Showing posts with label Artistic/Decoration. Show all posts
Showing posts with label Artistic/Decoration. Show all posts

Sunday, June 1, 2014

Artwork/Artistic/Decoration EYA EXHIBITHION 1



Persiapan dari pameran ini dibantu oleh kawan-kawan dari angkatan 
2011, 2012 & KBSR  UNJ


PENGANTAR DISKUSI PAMERAN EYA
”Membaca Penentu Wajah Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta”
“In Progres with Trust”

Mungkin kalimat tersebut yang mencerminkan proses berkarya mahasiswa seni rupa di Universitas Negeri Jakarta, dengan segala keterbatasan yang justru membuat stimulus kreativitas dan inisiatifitas muncul sebagai api kecil yang terus menyala.

Universitas Negeri Jakarta merupakan Institusi berbasis pendidikan, salah satu Jurusan di dalamnya yaitu Pendidikan Seni Rupa,  yang mempelajari ilmu seni rupa dalam teori pendidikan. Tidak bisa dipungkiri dengan gelar lulusan Sarjana Pendidikan profesi keahlian yang siap pakai yaitu menjadi guru (pendidik). Walaupun demikian disiplin ilmu seni rupa yang menjadi prioritas utama sebagaimana ilmu tersebut yang bersifat keahlian (skil), dipelajari sebagai basic keahlian individu, yang banyak membuka peluang-peluang untuk menjadi profesi apapun dengan latar seni yang sangat luas, sesuai keinginan individu masing-masing yang menentukan.

Di satu sisi lain keberagaman profesi yang dapat dipilih tersebut menjadi bentuk ke-bias-an individu selama masih mengenyam pendidikan dalam menentukan profesi yang akan dipilihnya. Latar belakang pendidikan tersebut membentuk karakter berkesenian dalam Wajah Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta pada proses, teknik, dan hasil karya.

Sebagai Institusi Negeri pendidikan buatan pemerintah dengan segala minimnya prioritas untuk ilmu seni rupa yang dipandang sebelah mata ­hal ini tak sekonyong-konyong dikatakan, sebagaimana fakta pendidikan di Indonesia, di sekolah pelajaran kesenian masih menjadi pelajaran kelas dua. Minimnya sarana dan prasarana menjadi sebuah hal yang selalu “diteriaki” oleh mahasiswa dalam proses perkuliahan, seperti ruang dan alat berkarya. Tidak bisa kita salahkan sebagai institusi yang berbeda semacam IKJ, ISI Jogja, ITB yang merupakan institusi keahlian seni yang murni dan profesional. Namun dengan segala keterbatasan justru membentuk gerakan inisiatif yang kreatif, dengan penjelajahan yang mencari banyak kemungkinan-kemungkian untuk keluar dari keadaan tersebut.

Selain itu kejenuhan adalah suasana kedua yang mendorong untuk melakukan aktifitas kesenian, kita ketahui bahwa keadaan-keadaan tersebut menjadi semangat bermain-main yang dilakukan oleh mahasiswa seni rupa Universitas Negeri Jakarta.
Tidak semua mahasiswa ingin menjadi guru ataupun sebaliknya menjadi seniman dan profesi seni di luar pendidik ­­yang entah kenapa selalu ditakuti karena kekakuan, kemonotonan dan keterikatannya. Profesi guru bukan suatu profesi yang buruk, namun di satu hal apakah tidak ada opsi kita untuk berpikir luas dari paradigma lama.

Banyak karya-karya dari seni rupa Universitas Negeri Jakarta yang menekankan keahlian yang luar biasa dari masing-masing individu yang mendalami proses berkarya, namun tak bisa dielakan ada pula kecenderungan keahlian yang dimiliki sebatasnya saja. Dari ke dua jenis mahasiswa tersebut Individu-individu yang mempunyai semangat yang luar biasa dalam berkarya adalah individu yang berhasil keluar dari keterbatasan dan membentuk api kecil yang selalu menyala.

Motivasi pengajar yang kurang suatu kasus yang berbeda lagi, faktor ini menjadi penentu pemikiran untuk belajar lebih secara mandiri, mencari ilmu di luar dalam dunia yang lebih luas untuk diketahui yang tidak diajarkan di kampus. Merupakan salah satu faktor pula penentu ketidakpercayaan diri mahasiswa yang bermain di luar, lain halnya dengan Insitusi Seni Murni yang mempunyai pengajar lebih kompeten, yang membimbing dan memberi jalur keluar dalam ranah seni rupa yang luas dan profesional karena memang sudah jelas akan apa mereka menjadi. Namun dari hal keterbatasan itu lagi yang menekankan individu untuk keluar dari gang kecil walau tertatih-tatih.

Eksplorasi menjadi proses yang sering dilakukan, sehingga menghasilkan karya atau event yang tak terduga, menarik, menyenangkan yang kerap menjadi nama dan dikenal. Dan Kelompok merupakan badan yang hidup bersama-sama untuk eksistensi yang dijaga bagi keberlangsungan “kehidupan” aktifitas kesenian.

Bicara soal kualitas karya mungkin tak jauh bedanya dengan mahasiwa yang mengenyam Insititusi Seni Murni, secara konsep, teknik maupun visual, namun peluang yang kurang didapatkan menjadi kendala. Selain itu kurangnya apresiasi masing-masing mahasiswa untuk menghargai karya satu sama lain dan  kurangnya percaya diri  dalam profesionalitas seni yang seharusnya. Ucuk-ucuk gerakan inisiatif yang dilakukan sebatas hura-hura, yang hanya berhenti sebatas keluar dari kejenuhan keterbatasan yang telah dijelaskan, lalu terlupakan dan berujung pada individu-individu menyerah kepada keadaan kehidupan yang realitas.

Ada empat hal yang dijelaskan oleh Aminudi TH Siregar dalam proses keberkaryaan mahasiswa seni rupa yang masih mengenyam pendidikan, mungkin ini bisa menjadi renungan dalam apa yang terjadi dalam proses kita menjadi, “pertama, kami hanya ingin bergurau dengan keadaan. Kami mengakhiri romantisme kampus di malam hari, sebelum perbuatan kami ini dinilai serius, apalagi terjebak dalam keseriusan yang membuat kami harus berpura-pura serius. Kami percaya musuh besar yang kami andaikan itu sesungguhnya tidak ada, kami tahu hegemoni dalam seni itu semu, itu hanyalah fiksi yang sengaja kami kontruksikan agar terlihat keren, elegan dan intelek, karena kami adalah mahasiswa. Kedua, kami sadar perbuatan itu hanyalah sekedar eksperimen kreatif saja, yang ingin dinikmati dengan senang-senang. Keempat, saat itu kami sadar bahwa protes dalam seni, mengikuti Kritikus Barbara Rose, adalah wujud kecengengan seniman muda yang sengaja mencari perhatian dengan provokasi, subversi dan menyerempet tabu. Oleh karena itu, ketiga kami sadar bahwa kecenderungan demikian tidak layak dipelihara. Kami pun mengerti bahwa berkarya pada malam hari itu tak banyak gunanya. Semua karya kami ikhlaskan kembali menjadi sampah agar tidak disakralkan”.*
25 Juli 2009
Pkl 23:59


Artwork/Artistic/Decoration ARTE II at jakarta convention center 2014





 Artwork/Artistic/Decoration with SERRUM and KBSR (Kerabat Baik Seni Rupa UNJ) :)


click here Article Page
 

Wednesday, May 14, 2014

Artwork/Artistic/Decoration Korean - Indonesia Contemporary Art at LOTTE mart Kuningan Jakarta

click here Article Page





With SERRUM 




Friday, November 15, 2013

Artwork/Artistic/Decoration on Battlefield Exhibition at Utan KayuSelatan Jaktim













 


artist yang berpameran : indar jadul , dindin , pak tani , galang , iphal , gema , berandal aspaleho (Dhigel, Adi Sundoro, Byba Dolby, Muchlis) , bopikcoret ,
workshop sablon : ardi SB ,
workshop lukis dasar , buat anak kecil : coratcoret
display artissick : opang gumoh

pameran seni rupa publik

"Battlle field " sebuah kalimat umum yang sering kita dengar dalam pembahasan sejarah manusia. Sebuah kalimat yang jadi tajuk dalam pameran kali ini kami adopsi dari bahasa asing yang berarti medan laga / medan pertempuran dengan sub tema hari pahlawan dan hari sumpah pemuda, yang semua tema tersebut memiliki sebuah korelasi arti perjuangan atupun perlawanan untuk meraih kemerdekaan maupun kebebasan. Pameran ini akan digawangi oleh pameris yg terdiri dari alumni, mahasiswa UNJ dan warga setempat yang memiliki kompentensi dalam bidang seni visual. Pameran seni ini sendiri memiliki tujuan untuk memberikan kontribusi dan pengenalan seni visual kekinian(posmodern) kepada masyarakat setempat. Karena seni Post Modern saat ini masih terasa asing di telinga maupun dimata masyarakat awam, seni visual seperti Mural (lukis dinding), Instalasi, Video art maupun Performance art,adalah beberapa bagian dari seni post modern. Seni visual tersebut sudah memiliki sejarah, kedudukan dan trend tersendiri di masyarakat negara2 luar sana.
Di Indonesia sendiri seni visual tersebut sudah di kenal namun terbatas dikalangan tertentu saja Hal ini dikarenakan banyak faktor namun salah satu faktor utamanya, seni dikuasai oleh kalangan mainstream baik pasar maupun aktivitas seni. Seni yang seringnya hanya di gelar di galeri2 mewah dan komersial membuat komunikasi dan publikasi tidak menyeluruh.Seolah olah seni visual adalah sebuah produk eksklusivitas untuk segelintir kalangan kelas atas. Sedangkan pada hakikatnya seni itu sendiri adalah hasil produk dari lingkungan maupun budaya masyarakat. tidak sedikit karya karya masterpiece ditelurkan dari hasil eksplorasi maupun eksploitasi kaum minoritas dimasyarakat.Dan alasan ini pula yang menyemangati para pameris untuk berkarya di lingkungan yang terasa dekat dengan lingkungan sekitar warga.Selain menjadi sebuah bentuk perlawanan terhadap seni Main Stream juga mengembalikan seni kedalam masyarakat.
Pameran ini sendiri akan diadakan didalam lapangan bulu tangkis yang berada di daerah jl nanas 1 rt 0 rw 03 no 5 utan kayu jakarta timur,adalah milik salah satu warga setempat yaitu milik keluarga ..pak tani ( wida )................ adalah lapangan yang biasa di gunakan oleh warga setempat untuk melakukan aktivitas olah raga bahkan aktivitas menjemur pakaian di keseharianya.Yang kini menjadi sasaran operasional medan laga aktivitas seni para pameris.(dindin nusantara)

 

 
© Copyright 2035 opang